Istilah Toleransi dalam Islam

Istilah toleransi dalam Islam disebut tasamuh. Tasamuh atau tasahul berarti kemudahan. Dengan demikian dapat diartikan bahwa Islam memberikan kemudahan bagi siapa saja untuk menjalankan apa yang diyakini sesuai dengan ajarannya masing-masing tanpa ada tekanan atau tidak mengganggu keyakinan yang telah dianut orang lain.

Kemudian, dalam konteks masyarakat dan agama, toleransi dapat diartikan sebagai sikap atau tindakan yang melarang diskriminasi pada masyarakat tertentu yang memiliki perbedaan atau tidak dapat diterima oleh masyarakat pada umumnya.

Oleh karena itu, dalam toleransi beragama, masyarakat mengizinkan adanya agama lain. Dalam Islam sendiri, konsep tasamuh mengandung konsep rahmatan lil alamin.

Meskipun Al-Qur'an tidak secara eksplisit menjelaskan definisi tasamuh, dalam kitab suci Al-Qur'an ada beberapa tema yang berkaitan dengan toleransi ini. Beberapa di antaranya seperti rahmat atau kasih sayang dalam QS al-Balad ayat 17 atau salam dan keselamatan dalam QS al-Furqan ayat 63.

Toleransi antar umat beragama yang terkandung dalam Al-Qur’an adalah Pertama, bertanggung jawab atas keyakinan dan tindakan, Kedua, kebebasan memilih dan mengamalkan keyakinan tanpa paksaan, Ketiga, saling menghormati dan menghargai keyakinan, Keempat, berlaku adil dan berbuat baik kepada sesama manusia. makhluk.

Islam sangat menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi. Di dalam Al-Qur'an sendiri telah dijelaskan tentang bagaimana mengatur hubungan antar umat beragama lain. Oleh karena itu, setiap muslim wajib memiliki sikap toleran terhadap pemeluk agama lain. Bentuk-bentuk toleransi yang diajarkan dalam Islam adalah sebagai berikut.

1. Bersikap adil kepada semua orang

Ibnu Katsir Rahimullah pernah berkata tentang hukum meremehkan atau merendahkan non-Muslim, Allah tidak melarang kamu berbuat baik kepada non-Muslim yang tidak memerangi kamu serta berbuat baik kepada wanita dan yang lemah di antara mereka. Oleh karena itu, berbuat baik dan berlaku adil, karena Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.

Dalam Al-Qur'an Surat Al Mumtahanah ayat 8-9 juga telah dijelaskan bahwa Allah SWT hanya melarang kamu menjadikan sebagai teman kamu orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negaramu dan membantu orang lain untuk mengusir kamu.

Dan barang siapa menjadikan mereka sebagai sahabat, maka sesungguhnya mereka termasuk orang-orang yang zalim. Dari ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa selamat agar pemeluk agama lain tidak memerangi, memecah belah dan menjauhkan umat Islam dari aturan agamanya, maka sebagai umat Islam, kita wajib untuk terus berbuat baik dan berlaku adil.

2. Saling menghormati prinsip agama

Dalam Surat Al Kafirun yang artinya “Untukmu agamamu, dan untukku agamaku”, dapat kita simpulkan bahwa Islam selalu mengajarkan kita untuk bersikap toleran terhadap agama apapun.

Kita harus memahami bahwa Tuhan yang kita sembah sebagai umat Islam tentu berbeda dengan Tuhan agama lain. Begitu juga dengan tempat ibadah yang kita gunakan. Oleh karena itu, kita tidak boleh memaksa pemeluk agama lain untuk menganut ajaran Islam yang kita yakini. Demikian pula, kita tidak boleh menghina atau mengganggu pemeluk agama lain yang berbeda keyakinan dengan kita.

Selain itu, sikap saling menghormati antar umat beragama menjadi penting agar tidak menimbulkan perpecahan dalam masyarakat. Pada dasarnya hidup rukun dan toleransi antar umat beragama tidak menunjukkan adanya campur tangan antara ajaran yang satu dengan yang lain. Namun dengan adanya sikap toleransi di tengah perbedaan tersebut akan semakin mempererat rasa kebersamaan dan kedamaian antar masyarakat.

Tradisi keagamaan yang dimiliki oleh suatu kelompok sebenarnya dapat mempersatukan keragaman antar pemeluk agama lain. Dengan demikian, nilai-nilai agama dan sikap toleransi yang diajarkan sejak dini kepada anak dapat menjadi pengendali dalam kehidupannya di masa depan. Terutama ketika datang untuk menemukan perbedaan di sekitarnya.

Prinsip Islam yang berkarakter moderat, humanistik, inklusif, santun, toleran terhadap berbagai pandangan, terbuka terhadap perbedaan, menebar kedamaian, rahmat, dan kasih sayang.

3. Toleransi dalam perdagangan dan keadilan

Dalam masalah perdagangan dan keadilan, Islam juga mengajarkan tentang toleransi, terutama dalam transaksi jual beli. Sebagai Muslim kita diajarkan untuk mengukur atau menimbang dengan jujur ​​agar tidak merugikan orang lain demi keuntungan pribadi.

Seperti dalam Surah Hud ayat 85 yang artinya “Dan Shuaib berkata: Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia karena hak-haknya."

Dalam ayat ini secara eksplisit mengajak umat manusia untuk tidak berbuat curang dalam urusan perdagangan. Tentu saja, perilaku membeli dengan meminta lebih banyak timbangan dan perilaku menjual dengan mengurangi timbangan sangat tidak dibenarkan dalam Islam.

Sebaliknya, orang yang memiliki sikap toleran dalam bertransaksi perdagangan akan mendapatkan kemudahan dalam Islam. Begitu juga dengan orang yang selalu lapang dada juga akan diberikan kemudahan dalam setiap masalah yang dihadapinya.

4. Toleransi dalam hutang dagang

Untuk urusan utang, Islam juga memiliki ketentuan sendiri yang sudah ditentukan sebelumnya. Dalam surah Al Baqarah ayat 280 yang artinya “Dan jika orang yang berutang itu dalam kesulitan, beri tangguhlah dia sampai ia mendapat banyak. Dan memberikan sebagian atau seluruh hutang itu sebenarnya lebih baik bagimu, jika kamu mengetahuinya.” Dari ayat tersebut dapat diartikan bahwa sebenarnya bersikap fleksibel dalam memberikan hutang atau pinjaman adalah suatu keutamaan.

Begitu juga halnya dengan bersikap terbuka kepada orang-orang yang kesulitan membayar kembali pinjaman atau utangnya. Orang yang memberikan kesempatan kepada orang yang sedang mengalami kesulitan telah dijanjikan oleh Allah SWT untuk mendapatkan kemudahan di akhirat kelak ketika setiap orang sedang mengalami kesulitan.

Rasulullah SAW pernah bersabda, “Ada seorang saudagar yang memberikan pinjaman kepada seseorang sehingga ketika saudagar itu melihat orang yang kesulitan, saudagar itu akan berkata kepada bawahannya, 'Beri dia waktu agar dia mendapat kemudahan, semoga Allah SWT memudahkan urusan kita'. Jadi, Allah SWT juga memudahkan pedagang.

Toleransi adalah sikap memberikan kemudahan dan kelapangan kepada setiap orang. Sikap ini termasuk dalam bentuk kasih karunia dan kasih sayang antar sesama. Maka tak heran jika Allah SWT memang menjanjikan balasan rahmat bagi siapa saja yang memiliki sikap toleran ini kepada orang lain yang kesulitan membayar utangnya.

5. Toleransi dalam ilmu

Tidak dapat dipungkiri bahwa ilmu pengetahuan memiliki kedudukan yang tinggi dalam Islam. Orang yang berilmu juga telah dijamin kedudukannya oleh Allah SWT. Begitu juga dalam hal mengabdikan ilmu atau berbagi ilmu kepada sesama manusia.

Mengabdikan ilmu kepada umat adalah yang utama dan melebihi harta. Oleh karena itu, orang yang memiliki ilmu harus terbuka lebar kepada siapa saja untuk berbagi ilmunya.

Baik dengan berdiskusi satu sama lain atau dengan mengajari orang-orang yang membutuhkan ilmu ini. Seorang ahli ilmu memang harus memperhatikan mereka yang akan bertanya tentang berbagai hal yang dia butuhkan.

Misalnya, jika seseorang mengajukan pertanyaan kepada seorang ulama, ia harus memberikan gambaran atau penjelasan yang jelas dan jelas. Jika perlu, ia harus menyampaikan berbagai sumber informasi seperti dalil, asbabul wurud, asbabun nuzul hingga hal-hal lain yang harus disampaikan kepada si penanya.

Dalam sebuah hadits yang bersumber dari Abu Hurairah disebutkan bahwa “Ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam kemudian berkata, Wahai Rasulullah, kami naik kapal dan hanya membawa sedikit air, jika kita berwudhu menggunakannya tentu kita akan haus. Bisakah kita berwudhu dengan air laut?”

Kemudian Rasulullah Shallallahu 'alaihi wassalam menjawab, “Air laut adalah air yang suci dan bangkainya halal”. Dari hadits ini dapat disimpulkan bahwa Nabi Muhammad SAW sangat luas ketika menjawab pertanyaan dari umatnya.

Padahal, jika dicermati, pertanyaannya hanyalah tentang boleh atau tidaknya mereka menggunakan air laut untuk berwudhu. Namun, Nabi Muhammad SAW justru memberikan penjelasan yang lebih luas dan jelas.

Dia tidak hanya menjawab apakah menggunakan air laut atau tidak, tetapi juga menekankan bahwa air laut itu murni dan mensucikan. Bahkan Nabi Muhammad juga menambahkan bahwa bangkai di air laut masih suci untuk dimakan.

6. Toleransi dalam harga diri

Pada dasarnya setiap orang memiliki harga diri yang harus dijaga. Sayangnya, di masyarakat sekarang ini masih banyak orang yang suka menjatuhkan atau meremehkan kehormatan seseorang.

Tentu saja perilaku seperti ini hanya akan mempermalukan orang yang bersangkutan. Terkadang, seseorang yang dilecehkan harga dirinya akan langsung merespon dengan bentuk emosional kepada pelaku yang menurunkan harga dirinya.

Tentu kita sering melihat kejadian orang marah atau murka di sekitar kita karena disebabkan oleh masalah harga diri ini. Dan pada akhirnya akan menimbulkan perselisihan dan pemutusan tali silaturrahmi.

Pada zaman Rasulullah SAW ada seorang sahabat yang pernah mengalami kasus seperti di atas. Teman itu dibenci oleh orang-orang yang sering dia bantu. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan seperti ini, Aisyah radhiyallahuanha berkata:

“Kemudian turun sebuah ayat yang membebaskanku dari fitnah.” Abu Bakar As-Siddiq yang selalu membiayai kehidupan Mistah bin Usasah karena memiliki hubungan keluarga dan juga memiliki masalah kemiskinan berkata:

"Demi Allah, setelah ini saya tidak akan memberikan dukungan lagi kepada Mistah selamanya setelah apa yang dia katakan kepada Aisha"

Setelah itu, Allah menurunkan ayat:

“Dan janganlah orang-orang yang memiliki kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka tidak akan pernah lagi memberikan bantuan kepada kerabat mereka, orang miskin dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah SWT. Dan biarkan mereka memaafkan dan mengasihani mereka. Jangan' Apakah kamu ingin Allah SWT mengampuni kamu? Dan sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. An Nur ayat 22).

Abu Bakar kemudian berkata:

“Ya, demi Allah, saya akan lebih menyukainya jika Allah (SWT) telah mengampuni saya. Maka Abu Bakar kembali menafkahi Mistah seperti sebelumnya lalu dia berkata: Saya tidak akan berhenti menafkahinya selamanya…” (Diriwayatkan dalam hadits bukhari).

7. Toleransi dalam menyikapi kesalahan

Siapapun itu pasti memiliki niat untuk menjadi orang baik, apalagi jika dia memiliki iman. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa manusia tidak pernah lepas dari kesalahan. Terkadang berbuat salah atau munkar dalam hidupnya. Untuk menyikapi perilaku salah orang lain, sikap dasar kita adalah sebagaimana tertuang dalam surat Al Maidah ayat 54 yang artinya berbunyi:

“…. Orang-orang yang lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman.” Dan juga disebutkan dalam surah Asy Syu'ara ayat 215 yang artinya

“…dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikuti kamu, yaitu orang-orang yang beriman”.

Dari ayat-ayat tersebut dapat diambil pelajaran bahwa ciri-ciri orang mukmin pada dasarnya adalah lemah lembut, tenang, tidak mudah marah dan cepat berpikir negatif terhadap sesamanya.

Hadits tentang toleransi dalam Islam

Selain ayat-ayat tentang toleransi, juga terdapat hadits-hadits yang membahas tentang toleransi ini antara lain. hadits pertama adalah

"Agama yang paling dicintai Allah adalah yang lurus dan toleran." (HR.Al-Bukhari).

Dalam hadits lain juga disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda:

Dari Anas bin Malik RA, Rasulullah (SAW) berkata, "Demi (Allah) yang hidupku ada di tangan-Nya, seorang hamba tidak beriman sampai dia mencintai tetangganya seperti dia mencintai dirinya sendiri." (HR Muslim dan Abu Ya'la: 2967).

Toleransi memang perlu dijaga di sekitar kita. Saling menyayangi dan menghormati antar keluarga yang berbeda keyakinan termasuk dalam sikap toleransi. Oleh karena itu, sikap toleransi ini diharapkan tidak hanya ditumbuhkan di lingkungan keluarga tetapi juga di lingkungan masyarakat luas.

Sumber : https://www.gramedia.com/best-seller/toleransi-dalam-islam/#Pengertian_toleransi_dalam_Islam 


Tag : Islam, toleransi
0 Komentar untuk "Istilah Toleransi dalam Islam"

Back To Top